PENGANTAR
Pada kesempatan ini, saya mendapatkan tugas untuk membahas tentang
anatomi teori fenomenologi dalam perspektif Martin Heidegger, beliau adalah
seorang filsuf besar abab 20an dan berpengaruh besar terhadap perkembangan
filsafat dan pemikir-pemikir setelahnya. Sebelum masuk pada inti pembahasan,
saya akan membahas terlebih dahulu tentang sejarah dan perkembangan
fenomenologi dari berbagai pemikiran para fenomenolog, kemudian setelah
pembahasanan tersebut baru merinci kepada pembahasan terkait dengan anatomi
teori Martin Heideger dengan spesifikasi-spesifikasi yang telah dikemukakan
oleh pak Hamdan.
Istilah fenomenologi sebenarnya telah digunakan oleh Kahn dan Hegel. Namun,
fenomenologi sebagai suatu aliran pemikiran yang khusus baru dirintis oleh
gurunya Edmund Hussrel (Frans Brentano) sebelum perang dunia II. mengenai
aliran fenomenologi ini , Roger Scruton menjelaskan bahwa sebenarnya pendiri
aliran ini adalah Franz brentano (1838-1917). Brentano adalah seorang psikolog
dan guru Husrsel yang paling gigih mengaku diri sebagai pendiri aliran
fenomenologi. Sebagai seorang psikolog empiris, Brentano melakukan suatu
penelitian mengenai jiwa manusia yang
sengaja dilakukan untuk menentang premis idealis. Melalui penelitianya ini ia
menyatakan bahwa “Geist” (roh atau
jiwa) yang universal mempunyai cara tersendiri didalam dunia ini. Geist itu seolah olah bertalian dengan
manusia pribadi secara kebetulan dan
hanya sewaktu-waktu saja. Menurutnya, sifat kejiwaan yang sangat abstrak itu
tidak dapat dijadikan titik tolak dalam psikologi. Psikologi harus dimulai dari
kasus individual, yaitu kasus orang pertama yang dapat diketahui langsung oleh
peneliti. Melalui ini baru kemudian ia melangkah pada pemikiran filsafat lama
mengenai hakikat pengetahuan orang pertama. Apa yang didapat jika seseorang
disuguhi makna kesadaran? Bagaimana orang yang mengetahui dibedakan dari yang
diketahuinya? Pemikiran filosofis ini seterusnya membimbing Brentano kepada hal
hakiki mengenai konsepsi makna[1].
[2]Fenomenologi
terbentuk dari kata fenomenon dan logos. Kata fenomenon berarti sesuatu yang
menggejala, yang menampakkan diri, sedangkan istilah logos berarti ilmu. Jadi,
fenomenologi berarti ilmu tentang fenomena atau pembahasan tentang sesuatu yang
menanmpakkan diri. Dengan demikian, semua wilayah fenomena (realitas) yang menampakkan
diri (manusia, gejala, sosial-budaya, atau objek-objek lain) dapat dikatakan
sebagai objek kajian fenomenologi).
Dilihat dari kemunculan istilah fenomenologi, sebelumnya istilah itu
dipergunakan oleh Husserl, istilah fenomenologi sebelumnya telah dipergunakan
oleh Imanuel Kahn (1724-1804) dan George Wilhem Friedrich Hegel (1770-1831).
Kahn misalnya mengemukakan istilah fenomena dan noumena. Fenomena pada Kahn
mengacu pada apa yang tampak, dan sesuatu yang tampak itu dapat dpahami dan
dimengerti. Fenomena merupakan hasil kontruksi subjek yang mengetahui terhadap
objek (fenomena) yang diketahui. Disini Kahn membedakan fenomena dengan
noumena, fenomena sebagai relita yang dapat diketahui, dapat diobservasi,
sedangkan noumena adalah hakikat realitas
yang berada di balik fenomena (metafisik). Karena noumena itu berada di
luar jangkauan pengamatan, maka menurut Kahn, kita tidak dapat memahaminya
sebab tidak ada jalan masuk indrawi ke noumena itu. Jadi, fenomenologi pada
Kahn adalah bentuk epistimologi yang meyakini kemungkinan untuk mengetahui
fenomena saja dan bukan noumena (das ding
an sich). Konsekuensi pandangan ini: segala sesuatu yang berada diluar
jangkauan pengamatan langsung dianggap berada diluar kajian (wilayah) ilmu
pengetahuan. Adapun pada Kahn kesadaran dianggap tertutup dan terisolir dari
realitas, tidak terkait dengan faktor sosial historis. Dengan demikian,
kesadaran mengenal diri sendiri dan melalui itu pulalah cara kita untuk
mengenal realitas[3].
Copleston dalam Yusuf Lubis berpendapat bahwa Hegel mengemukakan istilah
fenomenologi melalui karya bukunya The
Phenomenology Of Spirit (1806). Bagi Hegel seluruh fenomena hanyalah
penampakan diri dari akal yang tidak terbatas (Roh Absolut) dalam pandangan
idealisme Hegel, seluruh fenomena dalam
berbagai keragamanya, sesungguhnya tetap didasarkan pada satu esensi atau
kesatuan dasar (geist atau spirit).Hegel
menekankan adanya hubungan antara esensi (hakikat) dengan penampakan (fenomena)
yang teramati. Bagi Hegel, tidak ada pertentangan antara fenomena dengan
noumena, tidak ada pertentangan antara yang diamati (empiris) dengan yang dapat
dipikirkan secara rasional. Tesis Hegel yang paling terkenal adalah, “yang nyata”
adalah sama dengan “yang dipikirkan” atau “pikiran sama dengan kenyataan”
Sementara itu, Husserl memaknai fenomenologi berbeda dengan apa yang
dikemukakan oleh Kahn dan Hegel, pemikiran Hussrel merupakan bentuk kritik
terhadap ilmu pengetahuan modern (posivitisme) yang memandang bahwa ilmu
sekedar”ilmu tentang fakta-fakta” dan positivisme membatasi ilmu pengetahuan
pada gejala fisis dan itu merupakan suatu reduksionisme. Masalah yang berkaitan
dengan eksistensi rasional, emosional, makna, dan tujuan hidup manusia
dilenyapkan dengan alasan bahwa hal itu tidak dapat diverifikasi melaui metode
ilmiah. Positivisme menurut Hussrel telah “membunuh“ filsafat karena
paradigmanya positivisme tidak mampu melihat kesadaran. Positivisme menurut
Hussrel tidak mampu melihat kesadaran, makna hidup dan motivasi sebagai pemberi
makna pada fakta fisis (tingkah laku). Karena dalam pandangan positivisme
(objektivisme) mengabaikan peran manusia (dimensi subjek) dalam menciptakan
ilmu pengetahuan dan memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan secara utuh dan
rasional[4].
Dalam fenomenologi hussrel ada istilah epoche yang bermakna kita harus membebaskan diri kita dari
praduga-praduga, penilaian, atau pengandaian dan sebagainya supaya mendapat
suatu hal yang nampak dan bersifat genuine
atau asli. Kemudian selain itu juga ada istilah reduksi yang bermakna
penyaringan-penyaringan yang berkaitan dengan epoce yang kita bahas sebelumnya. Istilah selanjutnya adalah
intensionalitas merupakan kesadaran yang terarah kepada suatu objek, istilah
tersebut berbeda dengan pendapat descrates yaitu cogito yang bermakna kesadaran berada pada dirinya sendiri tanpa
berkaitan dengan suatu objek atau dunia luar. Kemudian istilah terahir yaitu lebenswelt yang bermakna bahwa dunia sebagaimana kita
hayati (dunia-pengalaman, dunia yang dihayati, atau dunia sehari-hari)[5].
Dan akhirnya kita sampai pada pembahasan fenomenologi Martin Heidegger,
Heidegger menyebut fenomenologinya sebagai “Fenomenologi Heurmenetika”. Atau
terkadang fenomenologi Heidegger sering disebut sebagai “analisis
eksistensial”. Fokus pengamatan Heidegger lebih diarahkan kepada dunia manusia in-der-welt-sein atau bermakna ada dalam
dunia. Hal tersebut menunjukkan tentang keterlibatan (concerned with), keterikatan (preoccupation),
komitmen (commitment), dan
keakraban (familiarity) manusia
dengan lingkungan alam dan budayanya. Menurut Heidegger “ada-dalam-dunia” harus
dipahami dan diungkap maknanya karena merupakan senuah relitas yang sebenarnya
dimana pengetahuan disana bersifat “praktis” dan bukan “teoritis”. Dalam
bukunya yang berjudul Sein und Zeit (ada dan waktu), Heidegger
mencoba mempertanyakan masalah mendasar yaitu ihwal masalah “mengada” (Dasein).
Siapa saya?: dari mana (asal) saya dan hendak akan kemana?; hidup saya untuk
apa?; dan pelbagai pertanyaan lainya, semua itu adalah permasalahan Dasein.
Dengan kata lain, hal mengada kita sendiri (Dasein)
selalu menjadi problema tau pertanyaan yang tidak pernah usai. Ini juga
mengisaratkan bahwa berada dalam dunia bagi manusia tidak sama dengan
keberadaan korek api didalam kotaknya. Dengan kata lain manusia sebagai Dasein berbeda dengan “mengada-ada” lain
seperti hewan, meja, mobil, dan lain sebaginya. Sebagai daein yang berbeda
dengan “mengada-ada” yang lain itu, manusia mempunyai kemampuan unik atau khas
yakni menyadari (mempersoalkan) makna Adanya. Artinya, Dasein bersifat terbuka sekaligus memberikan pemaknaan Ada (dan
hubungan Dasein dan Ada inilah yang
disebut eksistensi)[6].
Persoalan utama yang diangkat oleh Heidegger adalah lupa akan makna Ada.
Hal tersebut telah menjadi pola pikir manusia modern baik secara teoritis
ataupun praktis. Lupa akan makna Ada secara teoritis dapat kita pahami sebagai
pelbagai pandangan ilmu pengetahuan atau teori-teori moden yang mengabaikan
nial dan makna eksistensi manusia seperti pandangan-pandangan yang bersifat
deterministik. Disini ilmu menjadi “kering tanpa jiwa” karena mengapus nilai,
tujuan, serta makna hidup dari eksistensi manusia. Kemudian lupa akan makna Ada
dari segi praktis maksudnya adalah ditandai dengan gejala-gejala seperti
rutinitas, kedangkalan hidup, serta ketidak otentikan dalam menjalankan
kehidupan. Dari uraian tersebut kita dapat menegtahui tujuan fenomenologi
Heidegger yaitu untuk mengembangkan suatu metode khusus untuk mengajukan dan
menjawab tentang pertanyaan tentang “makna Ada” yang telah dilupakan oleh banyak
orang.
Heidegger murid terbaik Husserl dan
mengakui secara jujur bahwa ia dipengaruhi oleh Husserl (fenomenolog) terutama
tentang metode ilmu penegtahuan dan konsep tentang struktur kesadaran
(intensionalitas) dan Lebenswelt.
Namun, Heidegger tidak menerima begitu saja konsep Husserl, karena ia
menyesuaikan dengan gagasan dan kebutuhan praktisnya. Bila Husserl misalnya
mencoba untuk meahami esensi melalui fenomenologinya, Heidegger lebih
memfokuskan perhatianya pada permasalahan ontologis (eksistensi). Bila Husserl
memilih teori, Heidegger menenkankan pada praktik. Bila Husserl menekankan
pemahaman (kognisi). Heidegger lebih menekankan pada kesadaran[7].
KONTEKS SOSIAL
Martin Heidegger (lahir di Meßkirch, Jerman, 26 September 1889 – meninggal
26 Mei 1976 pada umur 86 tahun) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar
di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan
kemudian menjadi profesor di sana 1928. Ia memengaruhi banyak filsuf lainnya,
dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas,
Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri dan Karl Löwith. Maurice
Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc
Nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya dengan
mendalam. Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai
pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme,
dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat
Barat dari pertanyaan-pertanyaan metafisis dan epistemologis ke arah
pertanyaan-pertanyaan ontologis, artinya, pertanyaan-pertanyaan menyangkut
makna keberadaan, atau apa artinya bagi manusia untuk berada. Heidegger juga
merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche
Arbeiterpartei[8].
Heidegger dilahirkan di sebuah keluarga desa di Meßkirch, Jerman, dan
diharapkan kelak menjadi seorang pendeta. Di masa remajanya, ia dipengaruhi
oleh Aristoteles yang dikenalnya lewat teologi Kristen. Konsep tentang Ada,
dalam pengertian tradisional ini, yang berasal dari Plato, adalah perkenalan
pertamanya dengan sebuah gagasan yang kelak ditanamkannya pada pusat karyanya
yang paling terkenal, Being and Time (bahasa Jerman: Sein und Zeit) (1927). Keluarganya tidak cukup kaya untuk
mengirimnya ke universitas, dan ia membutuhkan beasiswa. Untuk maksud tersebut,
ia harus belajar agama. Heidegger juga tertarik akan matematika. Ketika ia
belajar sebagai mahasiswa, ia meninggalkan teologi dan beralih kepada filsafat,
karena ia menemukan sumber pendanaan lain untuk studinya. Ia menulis disertasi
doktoralnya berdasarkan sebuah teks yang saat itu dianggap sebagai karya Duns
Scotus, seorang pemikir etika dan keagamaan abad ke-14, namun belakangan orang
menduga itu adalah karya Thomas dari Erfurt[9].
Heidegger mulanya adalah seorang pengikut fenomenologi. Secara
sederhana, kaum fenomenolog menghampiri filsafat dengan berusaha memahami
pengalaman tanpa diperantarai oleh pengetahuan sebelumnya dan asumsi-asumsi
teoretis abstrak. Edmund Husserl adalah pendiri dan tokoh utama aliran ini,
sementara Heidegger adalah mahasiswanya dan hal inilah yang meyakinkan
Heidegger untuk menjadi seorang fenomenolog. Heidegger menjadi tertarik akan
pertanyaan tentang "Ada" (atau apa artinya "berada").
Karyanya yang terkenal Being and Time (Ada dan Waktu) dicirikan sebagai sebuah
ontologi fenomenologis. Gagasan tentang Ada berasal dari Parmenides dan secara
tradisional merupakan salah satu pemikiran utama dari filsafat Barat. Persoalan
tentang keberadaan dihidupkan kembali oleh Heidegger setelah memudar karena
pengaruh tradisi metafisika dari Plato hingga Descartes, dan belakangan ini
pada Masa Pencerahan. Heidegger berusaha mendasarkan keberadaan di dalam waktu,
dan dengan demikian menemukan hakikat atau makna yang sesungguhnya dalam artian
kemampuannya untuk kita pahami.
Demikianlah Heidegger memulai di mana Ada itu dimulai, yakni di dalam
filsafat Yunani, dengan membangkitkan kembali suatu masalah yang telah lenyap
dan yang kurang dihargai dalam filsafat masa kini. Upaya besar Heidegger adalah
menangani kembali gagasan Plato dengan serius, dan pada saat yang sama
menggoyahkan seluruh dunia Platonis dengan menantang saripati Platonisme -
memperlakukan Ada bukan sebagai sesuatu yang nirwaktu dan transenden, melainkan
sebagai yang imanen (selalu hadir) dalam waktu dan sejarah. Hal ini yang
mengakibatkan kaum Platonis seperti George Grant yang menghargai kecemerlangan
Heidegger sebagai seorang pemikir meskipun mereka tidak setuju dengan
analisisnya tentang Ada dan konsepsinya tentang gagasan Platoniknya.
Meskipun Heidegger adalah seorang pemikir yang luar biasa kreatif dan
asli, dia juga meminjam banyak dari pemikiran Friedrich Nietzsche dan Soren
Kierkegaard. Heidegger dapat dibandingkan dengan Aristoteles yang menggunakan
dialog Plato dan secara sistematis menghadirkannya sebagai satu bentuk gagasan.
Begitu juga Heidegger mengambil intisari pemikiran Nietzsche dari sebuah
fragmen yang tak terbit dan menafsirkannya sebagai bentuk puncak metafisika
barat. Karya Heidegger berupa transkrip perkuliahan selama 1936 tentang “Nietzsche’s Will to Power as Art” yang
dirasa kurang bernilai akademis dibandingkan karyanya sendiri yang lebih asli.
Konsep Heidegger tentang kecemasan angst dan das sein berasal dari konsep
Kierkegaard tentang kecemasan, pentingnya relasi subjektivitas dengan
kebenaran, eksistensi di hadapan kematian, kesementaraan eksistensi, dan
pentingnya afirmasi diri dari Ada seseorang di dalam dunia.
Martin
Heidegger dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar dari abad 20. Arti
pentingnya hanya dapat disaingi oleh Ludwig Wittgenstein. Gagasannya merasuki
berbagai bidang penelitian yang luas. Karena diskusi Heidegger tentang ontologi
maka dia kerap dianggap salah satu pendiri eksistensialisme dan gagasannya
kerap mewarnai banyak karya besar filsafat seperti karya Sartre yang
mengadopsinya banyak gagasannya, meskipun Heidegger bersikeras bahwa Sartre
salah memahami gagasannya. Gagasannya diterima di seluruh Jerman, Perancis, dan
Jepang hingga banyak pengikut di Amerka Utara sejak 1970-an. Meskipun demikian,
gagasannya dianggap sebagai tak bernilai oleh beberapa pemikir kontemporer
seperti mereka yang di dalam Lingkaran Wina,Theodor Adorno, dan filsuf Inggris
Bertrand Russell dan Alfred Ayer.
PEMIKIRAN DAN TEORI APA
YANG MEMPENGARUHI?
Kebebasan berpikir merupakan karakter utama periode modern. Periode
jaman modern lebih mementingkan keterlibatan subyek terhadap segala kenyataan
yang dilihat, disadari dan dialaminya setiap hari. Kebebasan berpikir seperti
ini mengandaikan adanya suatu kesadaran bahwa saya sebagai subyek harus kembali
kepada kenyataan. Kebebasan berpikir ini juga menunjukkan bahwa manusia tidak
pernah selesai dalam mencari kebenaran.
Pendekatan yang dipakai Heidegger berbeda
dengan pendekatan yang dipakai Husserl. Heidegger meradikalkan konsep Husserl
tentang intensionalitas, yaitu keterarahan kesadaran. Menurut Husserl,
kesadaran kita selalu terarah pada sesuatu di luarnya. Untuk kesadaran ini
Husserl memaksudkannya sebagai suatu kesadaran akan sesuatu. Bagi Heidegger,
kesadaran kita tidak hanya kesadaran akan sesuatu, tetapi juga kesadaran
dalam/sebagai sesuatu. Maksudnya, kita tidak sekedar menyadari sesuatu, tetapi
sesuatu itulah yang turut membentuk kesadaran kita. Misalnya, kita hidup di
dalam dunia, maka dunia ini yang membentuk kesadaran kita. Heidegger juga
menambahkan bahwa kesadaran dalam dunia tidak hanya itu, tetapi kesadaran akan
dunia memiliki banyak bentuk, misalnya suasana hati yang berkaitan dengan
perasaan. Kesadaran seperti ini Heidegger sebut sebagai kesadaran dalam
sesuatu. Dengan kata lain, Heidegger menganggap bahwa kesadaran murni seperti
yang dibayangkan Husserl tidak ada.
LATAR BELAKANG SOSIAL
Martin Heidegger adalah seorang fenomenolog sekaligus filsuf Jerman. Ia
berasal dari keluarga sederhana. Pada tanggal 26 September ia dilahirkan dikota
Messkirch. Pada tahun 1909 ia masuk Universitas Freiburg untuk belajar fakultas
teologi. Setelah mempelajari teologi selama empat semester, ia mengalihkan
perhatiannya kepada studi filsafat, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan
kemanusiaan. Berikutnya, pada tahun 1916 Edmund Husserl datang ke Freiburg
sebagai rektor di universitas tersebut. Kedatangan Husserl merupakan suatu
peristiwa yang penting bagi Heidegger. Mengapa? Karena kedatangan Husserl ini
semakin memperkuat Heidegger untuk lebih memperdalam filsafat fenomenologi,
yang sudah lama menjadi perhatiannya. Dia juga yakin bahwa melalui pergaulan langsung
dengan pendiri fenomenologi, dia akan menguasai betul maksud dan jangkauan cara
berfilsafat Husserl, khususnya tentang filsafat fenomenologi.
Heidegger pernah di kaitkan dengan Nazi
Jerman, tetapi disamping itu dia memutuskan untuk hidup menetap di suatu desa
terpencil mengahabiskan waktunya disana dengan merenungi perjalanan hidupnya,
dalam kondisi demikian dia tetap menghasilkan karya-karya tulisan. Hasil
pemikiranya banyak mempengaruhi orang-orang yang dekat denganya, salah satunya
adalah muridnya yang bernama Hannah Arendt.
PERTANYAAN YANG
DIAJUKAN.
Martin Heidegger
dikenal sebagai filsuf eksistensalisme yang menjadi salah satu murid Husserl
dan mendedikasikan karyanya yang berjudul being and time bagi gurunya di
universitas Freiburg. Nietzsche dan Kierkegaard mempunyai pengaruh besar
terhadap heidegger dalam mendirikan aliran fenomenologi eksistensialisme. Dia
menyatakan bahwa ada kesalahan pada sejarah filsafat, kesalahan tersebut ialah
pada pertanyaan apakah ada itu? (what ther is?) dan apakah yang dapat
kita ketahui tentang apa yang ada itu? (what
can we know about what there is?). Heidegger berpendapat pertanyaan
tersebut sudah mengarah pada dualisme yang secara jelas tergambar dari aliran
kartesian yang didirikan oleh Rene Descrates yang menyimpulkan bahwa dualisme
terdiri dari subjek pengamat dan objek dunia yang diamati. Seperti Nietzsche, Heidegger menolak
pembagian dunia luar dengan pengamat yang sadar[10].
Melalui pertanyaan ontologis kita dapat
mengetahui bagaimana Heidegger mulai menerapkan fenomenologinya, terutama
bagaimana mendekati Ada sebagai sebuah fenomen. Menurut
Heidegger, untuk mendekati Ada sebagai sebuah fenomen, kita harus membiarkan
Ada “menampakkan diri pada dirinya sendiri”. Artinya, dalam mendekati Ada kita
tidak memaksakan penafsiran-penafsiran kita begitu saja, melainkan membuka
diri, yaitu membiarkan Ada terlihat. Maka, sikap yang tepat terhadap Ada adalah
membuka diri, bukan hanya menganalisis. Sikap membuka diri ini terlihat dari
seseorang yang kerap merasa heran terhadap fenomen ada, mengapa segala sesuatu
itu ada atau tiada? atau apa artinya semua itu bagi kehidupan manusia? Memang,
pertanyaan ini mungkin tak akan pernah terjawab, tetapi pertanyaan tersebut
menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang bertanya karena keingintahuan
terhadap suatu fenomen ada.
PROPOSISI YANG
DITAWARKAN
Heidegger mengubah pertanyan para filsuf dengan memfokuskan pada
pertanyaan apakah sesuatu itu? (what is
Being?). maksud pertanyaan itu adalah sebelum menanyakan karakteristik
properti sebuah objek, perlu ditanyakan terlebih dahulu mengapa sesuatu itu
harus ada dan mengapa tidak sebaiknya tidak ada apapun saja[11].
Heidegger menggunakan pertanyaan
apakah yang ada itu? Untuk menekankan bahwa sesuatu yang Ada itu sebagai
dirinya sendiri. Heidegger mengajukan istilah Jerman Dasein yang diterjemahkan dalam bahsa inggris being-there yang
diartikan sebagai subjek. Tetapi karena Heidegger menolak konsep pemisahan
subjek-objek maka hal tersebut diartikan sebagai perspektif atau cara pandang
pada permulaan sebuah aksi[12].
Filsafaat fenomenologi dari Heidegger
mengartikan Dasein bukan dari pemahaman objek yang akan dianalisis, diukur,
atau diklarifikasian. Tetapi Dasein diartikan sebagai alat, yaitu apakah
sesuatu tu bermanfaat, apakah sesuatu itu dapat digunakan dengan yang lain, jika
ya apakah itu? Apakah pemahaman dasein tentang drinya sendiri? Heidegger
menekankan bahwa karakteristik Dasein sebagai yang menjalani waktu adalah fenomena yang memiliki kesadaran diri
dan mengetahui nasibnya sendiri. Dasein dipahami sebagai sesuatu yang terbatas
dan dapat mati. Pemahaman sepenuhnya tentang kematian kita adalah ketika kita
mengetahu tujuan hidup. Pemahaman diri sepert ini mengarahkan pada hidup yang
otentik, yang muncul tidak dari manapun selain dari dalam.
JENIS REALITAS SOSIAL
Martin Hedegger memaknai fenomenologinya sebagai fenomenologi
eksistensialsme, jenis realitas sosial yang digunakan Heidegger adalah “tersembunyi”,
maksudnya kesadaran berada didalam diri manusia dan bersifat tersembunyi, jadi
apa yang tampak diluar bukan berarti memang benar adanya karena hal tersebut
hanyalah sebuah relefeksi dari indra yang kita lihat, realitas sosial yang
tersembunyi tersebut baru bisa kita ketahui ketika kita menggalinya dan
berusaha mencari tahu kebenaranya. Saya mengambil contoh misalnya ada seorang
istri yang senantiasa sibuk dan capek melayani suaminya, setiap hari istri
tersebut terlihat selalu menyiapkan berbagai macam kebutuhan suaminya, mencuci
baju, menyiapkan makanan, bahkan sampai memakaikan kaos kaki untuk sang suami
ketika mau berangkat ke kantor. Jika dilihat dari luar sang istri terkesan
menderita karena harus melayani suaminya secara total, padahal disamping itu
sang istri juga banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Apakah benar
keadaanya demikian? Dalam pandangan fenomenologi belum tentu sang istri dengan
kondisi demikian merasa tersiksa oleh berbagai rutinitasnya, bisa jadi sang
istri tersebut malah merasa menjadi istri yang paling bahagia di dunia, karena
merasa sudah berbakti dan menjadi istri yangbaik bagi suaminya.
Hal tersebut menunjukkan bagaimana
fenomenologi dalam melihat suatu relitas sosal. Realitas yang tersembunyi
tersebut tidak bisa hanya mengandalkan panca indra yang bersifat positifisitik,
tetapi harus digali kebenaranya karena bersifat noumena merupakan hakikat
realitas yang berada di balik fenomena
(metafisik) seperti apa yang diungkapkan oleh Kahn.
LINGKUP REALITAS SOSIAL
Lingkup realitas sosial dalam fenomenologi Heidegger adalah Mikro, karena berkaitan dengan
individu. Fenomenologi Heidegger memberikan perhatian lebih pada kebenaran atau
kesadaran yang bersifat noumena dari individu.
Fokus pengamatan Heidegger lebih diarahkan kepada dunia manusia in-der-welt-sein atau bermakna ada dalam
dunia. Hal tersebut menunjukkan tentang keterlibatan (concerned with), keterikatan (preoccupation),
komitmen (commitment), dan
keakraban (familiarity) manusia
dengan lingkungan alam dan budayanya[13].
AKTOR
Aktor dalam pemikiran fenomenologi
Heidegger adalah aktor yang otonom.
Seperti penjelasan sebelumnya, kesadaran atau kebenaran yang diungkap oleh Heidegger berkaitan dengan
individu yang bebas dan otonom, dalam artian individu tersebut tidak dalam
pengaruh dari luar atau orang lain dalam struktur sosial.
PENJELASAN
YANG DITAWARKAN
Dari uraian singkat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pertama, fenomenologi Heidegger adalah suatu ontologi
menyangkut kenyataan. Fenomenologi Heidegger berusaha memaknai Ada sebagai
sebuah fenomen yang utama dari kesadaran manusia. Kedua, dengan memahami
fenomenologi Heidegger kita diarahkan untuk memahami karyanya yang cukup sulit
dipahami, yaitu tentang Ada dan Waktu. Ketiga, sebagai seorang filsuf
eksistensialis dan fenomenolog, Heidegger mengajak manusia untuk kritis dan
jeli dalam memaknai pengalaman sehari-hari, khususnya berkaitan dengan begitu
banyak penampakan yang mirip dan yang kerap menipu penglihatan manusia.
ASUMSI TENTANG INDIVIDU
DAN MASYARAKAT
Kaitanya dengan fenomenologi, Heidegger
memandang individu sebagai agen
perubahan dalam masyarakat. Dalam hal ini masyarakat merupakan hasil
konstruksi sosial. Pemikiran Heidegger dawali oleh pertanyaan tentang Ada,
kemudian Heidegger lebih menekankan pada Manusia dan dunia yang merupakan satu
kesatuan yang tak terpisahkan. Manusia dan dunia itulah ada itu sendiri. Ada
yang tidak terjebak pada ada-ada lainnya di dalam realitas, melainkan ada yang
menjadi realitas itu sendiri. Filsafat Heidegger adalah suatu upaya untuk
memahami Ada yang menyingkapkan dirinya.
METODE
YANG DIGUNAKAN
Metode yang digunakan oleh Martin Heidegger adalah metode kualitatif,
adapun terkait metode yang hendak dikembangkan oleh Heidegger untuk menjawab pertanyaan tentang makna Ada
itu dapat dipahami seperti ini.
Heidegger menelusuri pemikiran filsafat, dan Heidegger mengemukakan
bahwa pelbagai pendekatan dalam ilmu dan filsafat yang selama ini digunakan
tidak pernah terlepas dari asumsi-asumsi metafisis yang mengasalkan “Ada” (Sein) itu dari “adaan” (sciende) disini Heidegger kemudian
melakukan “dekontruksi metodologis” yang bertujuan untuk membersihkan kabut
metafisis itu. Caranya, kembali pada fenomena itu sendiri yang oleh Heidegger
disebut ”kembali pada realitas pertama dan sebenarnya”. Maksudnya, kembali pada
realitas sebelum dicampuri oleh berbagai asumsi dan prasangka (pengamat). Untuk
sampai pada fenomena seperti itu, dalam pandangan Heidegger diperlukan metode
yang disebutnya “interpretasi” (Auslegung).
Interpretasi itu diperlukan untuk menggali dan mengangkat kepermukaan setiap
makna dari gejala Ada. Dalam arti ini pulalah, Heidegger lantas menyebut
fenomenologi sebagai metode Interpretasi (fenomenologi-Heurmenetika), yang ia
gunakan untuk mengungkapkan makna tersembunyi dari eksistensi (manusia). Jadi,
terlihat lagi disini fenomenologi Heidegger
yang kerap disebut sebagai fenomenologi-heurmenetika itu, bertujuan
untuk menginterpretasikan makna tersembunyi dari Ada melalui mengadanya manusia
(Dasein). Ini artinya, penyelidikan
tentang makna Ada tersebut secara langsung amat berhubungan dengan manusia
yakni mahluk yang mampu mempertanyakan makna Ada itu[14].
Pemikiran fenomenologi Heidegger
berkaitan dengan filsafat ontologi. Konsep ontologi yang dipakai Heidegger
mempunyai ciri khas yakni, menggunakan metode fenomenologi. Fenomenologi yang
dimaksud tidak merujuk pada objek penelitian melainkan pada bagaimana
penelitian itu dijalankan.
UNIT ANALSIS YANG
DIGUNAKAN
Unit analisis yang digunakan dalam
pemikiran fenomenologi Heidegger adalah Individu.
Pandangan tentang individu oleh Hedegger berkaitan dengan eksistensialisme
manusia yang diarahakan kepada kehidupanya sehari-hari. Unit Analisis
Fenomenologi memusatkan perhatian kepada masalah mikro. Fenomenologi
mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat
interaksi tatap muka untuk memahaminya dalam hubungannya dengan situasi
tertentu. Memperhatikan Perubahan dan Proses Tindakan Fenomenologi
memperhatikan perubahan dan proses tindakan. Fenomenologi berusaha memahami
bagaimana keteraturan dalam masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam
pergaulan sehari-hari.
LOKUS REALITAS
Teori fenomenologi Heidegger lokus
realitas sosialnya adalah Skala lokal
atau terbatas. Saya rasa penjelasan tersebut ada kaitanya dengan penjelsan
sebelumnya, hal tersebut terlihat pada unit analisis teori fenomenologi
Heidegger adalah indivu yang mempunyao jenis realitas sosial tersembunyi,
kemudian dari aspek aktor bersfat otonom, dan lingkup reailtas sosialnya adalah
mikro.
BIAS KEBERPIHAKAN
Bias keberpihakan fenomenologi Heidegger adalah Konstruktivistik, hal tersebut berkaitan dengan pandanganya tentang
penyingkapan makna Ada yang menjadi pertanyaan besarnya. Konstruktvitik
tersebut dapat dimaknai sebagai rangkaian pola pikir yang didasarkan pada
pemahaman yang bertolak belakang dengan pemikiran positifistik yang beranggapan
bahwa fenomena dilihat berdasarkan apa yang nampak yang di tangkap oleh panca
indra, karena memang yang menjadi pusat perhatian fenomenologi Hedegger adalah
suatu yang tidak nampak, kesadaran berada didalam individu yang tidak dapat di
tangkapoleh indrawi, kemudian hal tersebut di kontruksikan oleh pengamat
melalui hasil pengalaman interaksi mereka dengan objek fenomena.
Dalam pandangan modern, pengalaman
adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan karena tidak serta merta
jelas,pengalaman juga merupakan kondisi yang menjadikan pengetahuan sebagai
sesuatu yang perlu. Artinya pengalaman tidak serta-merta menawarkan diri
sebagai pedoman yang sudah pasti untuk dunia (termasuk kita sendri).
BERADA DALAM MAZAB APA?
Ada tiga paradigma dalam filsafat ilmu pengetahuan sosial, yang pertama
adalah yang bermoral-teologikal (Aristotelian), yang kedua yaitu Rasional
(Cartesian), dan yang ketiga adalah Saintifik (Galilean). Terkait dengan teori fenomenologi
Martin Heidegger, teori yang dikemukan berada dalam mazab Cartesian yang dikembangkan oleh Descartes. Selanjutnya, fokus
kajian rasionalisme Descartes adalah (i) menekankan akal budi (rasio) sebagi
sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas)
dari pengamatan inderawi. (ii) Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal
yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. (iii) Pengalaman hanya dipakai
untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memperoleh
pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya, yaitu atas dasar
asas-asas pertama yang pasti. Adapun ciri-ciri rasionalisme adalah (i) tidak
mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman hanya dipandang sebagai
sejenis perangsang bagi pikiran; (ii) keyakinannya bahwa kebenaran dan
kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya di dalam barang sesuatu; (iii)
kebenaran bermakna sebagai keberadaan ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk
kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan
hanya dapat diperoleh dengan akal saja[15].
DAFTAR PUSTAKA
Adib,
Mohammad, 2012, TIGA PARADIGMA FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL,
Jurnal UNAIR
Kumara Ari Yuana,
2010, 100 tokoh Flsuf Barat dari
Abad 6 SM-Abad 21 Yang menginspirasi
Dunia Bisnis,
Yogyakarta: AndiOffset
Watloly Aholiab, 2001, TANGGUNG JAWAB PENGETAHUAN, yogyakarta, Kanisius
Yusuf L, Akhyar. 2015, Filsafat Ilmu; klasik hingga kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.
[1] Aholiab, TANGGUNG
JAWAB PENGETAHUAN, Kanisius,
yogyakarta, 2001, hal 93
[2] Lubis, FILSAFAT ILMU; KLASIK HINGGA KONTEMPORER, Rajawali Pers, Jakarta,
2014, hal 205
[3] Lubis, 2014, Ibid, Hal 206
[4] Lubis.
2014, Opcit, Hal 208
[5] Ibid
[6] Lubis,
2014, Opcit, Hal 213
[7] Lubis,
2014, Ibid, Hal 188-189
[8] Wikipedia,
MARTIN HEIDEGGER, https://id.wikipedia.org/wiki/Martin_Heidegger,
Diakses 15 juni 2015
[9] Ibid
[10] Kumara Ari Yuana, 100 TOKOH FLSUF BARAT DARI ABAD 6 SM-ABAD 21 YANG MENGINSPIRASI DUNIA
Bisnis, AndiOffset, Yogyakarta, 2010, hal. 290.
[11] Yuana,
2010, Opcit, Hal 291
[12] Ibid
[14]
Lubis, 2014, Opcit, Hal 215
[15]
Adib, TIGA PARADIGMA FILSAFAT ILMU
PENGETAHUAN SOSIAL, jurnal UNAIR